Agenda Pelatihan Jadi Momen Perumusan Standar Baru

Rs-alirsyadsurabaya.co.id-Sebanyak empat belas kali sesi pelatihan yang ditujukan pada seluruh stakeholder di RS Al Irsyad Surabaya, dalam agenda Pelatihan Komunikasi Efektif Rumah Sakit, tak hanya untuk improvisasi SDM namun juga untuk pembentukan standar baru komunikasi di RS.

Tujuan pelatihan yang diadakan bergiliran sejak 20 Agustus hingga 2 Oktober 2019 mendatang ini, diungkapkan Imam Muchlis, M.Psi. selaku Manajer Sumber Daya Manusia RS Al-Irsyad Surabaya, utamanya adalah untuk memberikan pembekalan sekaligus evaluasi pentingnya komunikasi yang efektif kepada seluruh petugas kesehatan di RS. Namun pada prosesnya, sekaligus menjadi momen membentuk standar komunikasi baru yang lebih baik dari sebelumnya.

Proses ini, disebutkan Imam Muchlis, setelah materi pelatihan diberikan, hingga proses penyadaran yang kemudian penemuan hal-hal yang kurang tepat dijalankan di RS selama ini, selanjutnya akan disesuaikan dengan prototipe RS yang terletak di bagian utara Kota Surabaya.

“Standar ini khususnya mengenai salam sapa pada pasien, serta etika berbicara, baik secara langsung, maupun saat melalui sambungan telepon,” jelas Muchlis.

Dalam pelatihan yang sangat bersifat interaktif dengan membahas langsung persoalan komunikasi yang sehari-hari dilakukan di RS dan langsung menanyakan pendapat para peserta yang hadir inilah rumusan mengenai standar baru ditemukan.

Bahkan, agenda pelatihan ini juga diisi dengan sebuah roleplay, di mana hal ini akan mencoba mnegetahui pelayan di RS untuk kemudian direviu bersama agar sesuai dengan standar seperti salam sapa, ekspresi, dan keramahan. 

Selama ini, standar RS Al-Irsyad sendiri dalam menyapa pasien ialah dengan meletakkan tangan sebelah kanan pada bahu sebelah kiri, lalu menawarkan bantuan dengan tersenyum.

Begitu pula saat dalam berada dalam sambungan telepon. Karyawan/staf bertugas menyebutkan salam, disusul dengan menyebutkan identitas seperti bagian/unit karyawan, memperkenalkan nama, dan menawarkan pertanyaan: Ada yang bisa kami bantu?

Selain itu, penanaman budaya komunikasi yang lebih baik ditekankan Muchlis, juga untuk menghindari munculnya orang-orang yang bekerja dengan nato, yakni no action, talk only. “Jangan sampai kita bekerja seperti itu dan kita tentu tidak ingin bekerja dengan orang seperti itu,” tandasnya. 

Untuk dapat memberikan pelayanan terbaik melalui improvisasi komunikasi ini, menurut Muchlis, juga perlu menurunkan tensi ego. Di mana hal ini juga menjadi komitmen dari Direktur Rumah Sakit pada saat sambutan di hari pertama sesi pelatihan. 

“Jadi, budaya komunikasi ini juga dijalankan pada level manajemen. Sehingga keseluruhan bagian RS Al-Irsyad pun turut menjalankan prinsip ini,” pungkas Muchlis. (nin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat